Kamis, 06 Oktober 2016

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerusakan tsunami

1.  Geologi dan seismisitas, meliputi episenter, bathimetri (kedalaman dasar laut), pergeseran lempeng tektonik, sehingga dapat menentukan arah dan besaran kecepatan gelombang tsunami.
2.      Morfologi pantai, meliputi bentuk, geometri, kelandaian dan jenis litologi (batuan pembentuk pantai) serta tata pengolahan lahan.
3.      Vegetasi penutup dan lingkungan pantai.
4.      Penataan lokasi perumahan, pemukiman dan bangunan lain.
5.      Jenis struktur bangunan dan bahan bangunan.
6.      Kesiapsiagaan masyarakat tentang bencana.

Hubungan Frekuensi Dominan dan Jenis Batuan

Frekuensi  dominan memiliki keterkaitan yang sangat dekat dengan kekerasan lapisan batuan.  Nilai frekuensi dominan dapat ditentukan dari setiap titik pengukuran. Frekuensi dominan yang tinggi menunjukkan lapisan tersebut tersusun dari batuan keras (batuan dasar) dan sebaliknya frekuensi dominan yang rendah menunjukkan lapisan tersebut tersusun dari batuan lunak (sedimen). Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan antara frekuensi dominan, periode gelombang  dengan ketebalan  sedimen lunak. 
Frekuensi dominan berbanding terbalik dengan periode gelombang yang melalui lapisan sedimen, yaitu jika frekuensi  dominan tinggi maka periode gelombang yang melalui suatu lapisan sedimen rendah, dan jika periode gelombang tersebut terdeteksi oleh alat pengukur mikrotremor bernilai tinggi  maka hal tersebut disebabkan tebalnya sedimen pada singkapan batuan dasar. Berarti bahwa gelombang yang datang dan melalui lapisan sedimen tersebut terperangkap dalam lapisan sedimennya dalam waktu yang lama. Sedimen yang lunak tersebut memiliki ketebalan yang tinggi, karena gelombang yang melaluinya dapat terperangkap lebih lama atau teredam sesuai dengan karakteristik suatu fluida tersebut, kental atau tebal, maka gelombang yang datang melaluinya akan lama dan frekuensinya rendah, sebaliknya jika suatu fluida tersebut tidak kental atau kekentalannya kurang bahkan rigid (cair) maka gelombang yang melaluinya akan berlalu begitu saja karena tidak butuh waktu lama untuk dapat terperangkap di dalamnya sehingga frekuensinya pun tinggi dan cepat. 
Daerah yang memiliki frekuensi dominan rendah umumnya memiliki kerentanan untuk mengalami kerusakan wilayah yang tinggi jika terlanda gempabumi. Hal ini dikarenakan frekuensi  dominan berbanding terbalik dengan nilai penguatan goncangan/amplifikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, jika gempabumi terjadi di daerah yang memiliki jenis batuan lunak maka kerusakan akan parah, sedangkan jika terjadi di batuan yang keras maka kerusakan akan kecil. 

Belajar Bahasa Polandia

Bagi yang ingin belajar bahasa Polandia, silakan open link ini....

https://www.facebook.com/angga.diansari/posts/1071423482979412

https://www.facebook.com/angga.diansari/posts/1071418586313235?pnref=story

http://because-ofallah.blogspot.com/2016/01/belajar-bahasa-polish.html

http://because-ofallah.blogspot.com/2016/01/verb-case-bahasa-polish.html

http://because-ofallah.blogspot.com/2015/12/belajar-bahasa-polish-1.html

Selasa, 04 Oktober 2016

Prosedur Pengukuran Magnet Bumi

Untuk mengetahui nilai-nilai komponen magnet seperti (H, Z, X, dan Y), perlu dilakukan pengukuran terhadap deklinasi, inklinasi dan total intensitas magnet. 

Prosedur Pengukuran Titik Tetap

1.    Melevelkan teodolit dengan menggunakan/memutarkan sekrup leveling sampai water pass berada di tengah-tengah.
2.    Tempatkan posisi vertical circle di kanan telescope dan arahkan ke titik tetap.
3.    Presisikan pelurus benang baca pada titik tetap.
4.    Catat pembacaan skala horizon pada formulir pengamatan.
5.    Putar teodolit 180o sehingga vertical circle ada di posisi kiri telescope dan arahkan ke titik tetap.
6.     Presisikan pelurus benang baca pada titik tetap.
7.    Catat pembacaan skala horizontal pada formulir pengamatan.

Prosedur Pengukuran Deklinasi dan Inklinasi

     1.    Melevelkan alat dengan memutar sekrup level (satu atau dua sekrup yang diputar), semua sekrup harus dilevelkan.
     2.     Menghubungkan kabel sensor dangan digital fluxgate magnetometer.

Mengukur Deklinasi

1.    Setelah terhubung, ratakan sensor sampai posisi skala vertical 90o00’00”, kemudian kunci skala vertikalnya.
     2.    Mengarahkan teleskop ke Barat dan sensor di atas (komponen West-Up).
     3.    Membuka klem skala horizontal kemudian memutar theodolit sampai penunjukkan pada digital fluxgate menunjukkan angka 0.000 atau 0.001 nT.
     4.    Membaca nilai yang terdapat pada skala horizontal dan mencatat waktu pembacaan.
     5.    Membuka klem skala vertical, kemudian teleskop diarahkan ke Timur dengan posisi sensor di bawah (komponen East-Down).
     6.    Meratakan posisi sensor sampai skala vertical menunjukkan angka 270o00’00”.
7.    Membuka klem skala horizontal kemudian memutar theodolit secara horizontal sampai nilai pada digital fluxgate magnetometer menunjukkan angka 0.000 atau 0.001 nT.
8.    Membaca nilai pada skala horizontal dan mencata waktu pembacaan.
9.    Melakukan langkah yang sama (langkah 5 – 7) untuk komponen West-Down (teleskop diarahkan ke Barat dengan posisi sensor di bawah).
10.  Membuka kembali klem skala vertical dan mengarahkan teleskop  ke arah Timur dengan posisi sensor di atas (komponen East-Up), kemudian melevelkan sensor dengan skala vertical menunjukkan 90o00’00”.
11.  Membuka klem skala horizontal kemudian memutar theodolit sehingga angka pada digital fluxgate magnetometer menunjukkan angka 0.000 atau 0.001 nT.
12.  Membaca skala horizontal dan memcatat waktu pembacaannya.
13.  Menghitung rata-rata hasil pengukuran (digunakan pada pengukuran inklinasi)

Mengukur Inklinasi

     1.    Membuka klem skala horizontal, kemudian mengarahkan teleskop ke Utara dengan posisi sensor di atas (komponen North-Up). Nilai pada skala horizontal diposisikan pada nilai rata-rata dikurangi 90o00’00”.
     2.    Membuka klem skala vertical kemudian memutar teleskop secara vertikal sampai nilai pada digital fluxgate magnetometer menunjukkan angka 0.000 atau 0.001 nT.
3.    Membaca nilai pada skala vertical dan mencatat waktu pembacaan.
4.    Lakukan langkah yang sama (langkah 1 - 3) untuk komponen South-Down (teleskop ke arah Selatan dan posisi sensor di bawah).
5.    Membuka kembali klem skala horizontal teleskop diarahkan ke Utara dengan posisi sensor di bawah (komponen North-down) dan skala horizontal diposisikan pada nilai rata-rata ditambah 180o00’00”.
6.    Membuka skala vertical, kemudian memutar teleskop secara vertikal sampai nilai pada digital fluxgate magnetometer menunjukkan angka 0.000 atau 0.001 nT.
7.    Membaca nilai pada skala vertical dan mencatat waktu pembacaan.
8.    Melakukan langkah yang sama (langkah 5 - 7) untuk komponen South-Up (teleskop ke arah Selatan dan posisi sensor di atas).

Prosedur Pengukuran Total Intensitas

            Pengukuran total intensitas (total force reading) dengan proton magnetometer dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah pengukuran deklinasi-inklinasi, dan pembacaan nilai pengukuran sebanyak 8 kali. Nilai total intensitas (F) merupakan rata-rata dari hasil pengukuran.
Adapun prosedur pengukurannya yaitu :

1.         Menempatkan proton pada titik pengukuran.
2.         Mengarahkan sensor ke arah Utara (sesuai dengan arah medan magnet).
3.         Menghubungkan konsul dengan sensor (posisi agak jauh).
4.         Menyesuaikan turning/auto turning sensor ke harga magnet lokal.
5.        Menekan tombol star untuk mendapatkan nilai pengukuran dan menunggu hingga perubahan nilai stabil.

Ketika perubahan nilai mulai stabil, catat nilai pengukuran sebanyak 8 kali disertai pencatatan waktu mulai serta berakhirnya pembacaan.

next page