Selasa, 03 Juli 2012

Intensitas Gempa Bumi


Intensitas gempabumi adalah ukuran kerusakan akibat gempabumi berdasarkan hasil pengamatan efek gempabumi terhadap manusia, struktur bangunan dan lingkungan pada tempat tertentu. Besarnya intensitas di suatu tempat tidak tergantung dari besarnya kekuatan gempabumi (Magnitude) saja namun juga tergantung dari besarnya jarak tempat tersebut ke sumber gempabumi dan kondisi geologi setempat.

Intensitas berbeda dengan magnitude karena intensitas adalah hasil pengamatan visual pada suatu tempat tertentu sedangkan, magnitude adalah hasil pengamatan instrumental menggunakan seismograf. Pada suatu kejadian gempabumi besarnya Intensitas pada tempat yang berbeda dapat sama atau berlainan sedangkan besarnya Magnitude selalu sama walaupun dicatat atau dirasakan di tempat yang berbeda.

Terdapat beberapa macam skala pengukuran intensitas yaitu : skala Modified Mercalli Intensity (MMI) yang diakui menurut standar internasional, skala intensitas  Medvedev-Sponheur-Karnik (MSK) yang sejak 1992 dirubah menjadi European Macroseismic Scale atau EMS yang digunakan di Eropa bagian timur, skala intensitas Japan Meteorological Agency (JMA) yang digunakan di Jepang dan skala intensitas Rossi-Forel (RF) yang digunakan di Cina.

Sebelum tahun 1948 Indonesia menggunakan skala intensitas Rossi-Forel, antara tahun 1948-1955 menggunakan skala Jakarta (0-VII) dan sesudah tahun 1955 menggunakan skala MMI (Soetarjo.R, 1979). Dengan adanya revisi yang terus-menerus dilakukan maka seluruh kejadian gempabumi yang ada dalam katalog gempabumi BMG saat ini telah dikonversi ke skala MMI.


Intensitas bukanlah merupakan parameter energi gempa bumi, tetapi dapat menggambarkan atau mengungkapkan kekuatan / magnitude gempa bumi dengan baik. Apabila magnitude dihitung berdasarkan rekaman pada instrumen maka intensitas berdasarkan akibat langsung dari gempabumi atau dengan perkataan lain, intensitas adalah skala yang dibuat untuk menggambarkan secara langsung kekuatan gempa bumi dan pengaruh di permukaan bumi seperti misalnya pengaruh terhadap bangunan, topografi dan sebagainya, yang pada umumnya disebut sebagai efek makro.

Magnitude mempunyai sebuah harga untuk suatu gempa bumi, tetapi intesitas akan berubah dengan perubahan tempat. Intensitas yang terbesar ( maksimum ) terdapat di daerah episenter, dan dari daerah tersebut nilai intensitas pada  umumnya akan menurun atau berkurang dengan jarak kesegala jurusan.

Skala intensitas yang pertama kali adalah skala intensitas Rossi-Forel, yang mempunyai 10 ( sepuluh ) derajat skala. Tetapi karena skala tersebut tidak memperlihatkan pembagian yang baik untuk gempa-gempa bumi yang kuat / merusak, maka kemudian diganti dengan 12 ( dua belas ) derajat skala, hal ini pun masih tergantung pada para pembuatnya, misalnya: skala Mercalli, skala Sieberg, dan sebagainya. Kemudian diperbaiki oleh Wood dan Neumann di Amerika pada tahun 1931, dan selanjutnya disebut skala Modified Mercalli  (skala MMI ).

Perubahan lain juga dibuat oleh Richter dan menamakan hasilnya sebagai skala intensitas Modified Mercalli Versi 1956. perubahan terakhir dibuat oleh Medvedev, Sponheuer beserta Karnik dan dinamakan skala intensitas MSK tahun 1964. Harga intensitas dari MSK 1964 sesuai dengan skala Mercalli Cancani-Sieberg (1917), Modified Mercalli (1931), dan skala Soviet (1952). Sedangkan skala Jepang (1950) adalah 7 derajat skala, yang dibuat oleh pemerintah Jepang.

Perlu diperhatikan bahwa sklala intensitas bukan skala magnitude. Pada umumnya, untuk menentukan secara tepat intensitas dari suatu gempa bumi di suatu daerah, dikirimkan suatu tim peneliti yang langsung terjun ke lapangan atau daerah dimana terdapat efek atau pengaruh gempa bumi tersebut. Pengamatan ini perlu pengetahuan mengenai kondisi geologi dan tipe konstruksi bangunan.

Hasil dari penelitian tersebut, merupakan data yang diperlukan untuk menentukan skala intensitas dan selanjutnya dibuat peta isoseismal. Isoseismal adalah garis yang menghubungkan tempat-tempat dengan intensitas yang sama. Untuk menghindari kerancuan dengan besaran magnitude, skala intensitas ditulis dengan angka Romawi.

Suatu kenyataan, bahwa intensitas yang lebih besar akan terjadi pada tanah yang lunak / gembur dibandingkan pada tanah yang padat / bedrock. Dalam melihat kerusakan yang diakibatkan oleh suatu gempa bumi, harus diyakini benar bahwa kerusakan tersebut timbul karena pengaruh gempa bumi, dan bukan karena pengaruh yang lain, seperti misalnya: perubahan suhu yang besar dan mendadak, deruman sonik pesawat terbang dan sebagainya.

Dengan menggunakan peta isoseismal, dapat diperkirakan parameter gempa bumi lainnya, seperti letak episenter, kedalaman pusat gempa bumi, dan sebagainya.

Penentuan episenter secara instrumen (pembacaan rekaman permulaan gelombang P dan S), pada umumnya merupakan sebuah titik dimana sesar tersebut dimulai. Apabila sesar merupakan belahan panjang, maka lokasi episenter tersebut akan menyimpang dari daerah intensitas maksimum. Apabila pusat gempa bumi terjadi pada suatu kedalaman tertentu, maka pengaruh intensitas akan lebih kecil kalau menjauhi episenter, dibandingkan apabila pusat gempa bumi lebih dangkal.

Hubungan antara Intensitas suatu tempat (I), intensitas maksimum (Io),  radius isoseismal (r) dan kedalaman fokus (h), secara empiris dirumuskan sebagai berikut:                                                                                                                     

………………...(4.2-1)

Dari suatu gempa bumi di California Selatan diperoleh hubungan antara magnitude gempabumi dengan intensitas maksimum (Io), dan diperlihatkan dalam persamaan :
……………………………(4.2-2)

Sudah dapat dipastikan bahwa variasi yang besar banyak terjadi pada persamaan diatas untuk daerah seismik yang berbeda. Persamaan-persamaan tersebut adalah yang umum berlaku dan hanya dipakai sebagai pendekatan pertama, bila data mengenai suatu daerah seismik tidak diketahui.



SKALA MODIFIED MERCALLI INTENSITY (MMI)

I.                   Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan hening oleh beberapa orang.

II.                Getaran dirasakan oleh beberapa orang yang tinggal diam, lebih-lebih di rumah tingkat atas. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

III.             Getaran dirasakan nyata dalam rumah tingkat atas. Terasa getaran seakan ada truk lewat, lamanya getaran dapat ditentukan.

IV.             Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang. Pada malam hari orang terbangun, piring dan gelas dapat pecah, jendela dan pintu berbunyi, dinding berderik karena pecah-pecah. Kacau seakan-akan truk besar melanggar rumah, kendaraan yang sedang berhenti bergerak dengan jelas.

V.                Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun. Jendela kaca dan plester dinding pecah, barang-barang terpelanting, pohon-pohon tinggi dan barang-barang besar tampak bergoyang. Bandul lonceng dapat berhenti.

VI.             Getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan terkejut dan lari keluar, kadang-kadang meja kursi bergerak, plester dinding dan cerobong asap pabrik rusak. Kerusakan ringan.

VII.          Semua orang keluar rumah, kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Cerobong asap pecah atau retak-retak. Goncangan terasa oleh orang yang naik kendaraan.

VIII.       Kerusakan ringan pada bangunan-bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan yang kuat. Banyak kerusakan pada bangunan yang tidak kuat. Dinding dapat lepas dari kerangka rumah, cerobong asap pabrik-pabrik dan monumen-monumen roboh. Meja kursi terlempar, air menjadi keruh, orang naik sepeda motor terasa terganggu.

IX.             Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak lubang-lubang karena retak-retak pada bangunan yang kuat. Rumah tampak bergeser dari pondasinya, pipa-pipa dalam tanah putus.

X.                Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka-rangka rumah lepas dari pondasinya, tanah terbelah, rel  melengkung. Tanah longsor di sekitar sungai dan tempat-tempat yang curam serta terjadi  air bah.

XI.             Bangunan-bangunan kayu sedikit yang tetap berdiri, jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

XII.          Hancur sama sekali. Gelombang tampak pada permukaan tanah, pemandangan menjadi gelap, benda-benda terlempar ke udara.       


PERBANDINGAN BEBERAPA SKALA INTENSITAS

M S K
Skala Jepang
Skala Rossi Forrel
Th. 1964
Th. 1950
Th. 1874
 I
0
I
II
1
II
III
2
III
IV
2 / 3
IV
V
3
 V – VI
VI
4
VII
VII
4 / 5
VIII
VIII
5
IX
IX
6
X
X
6
X
XI
7
X
XII
7
X



0 komentar:

Posting Komentar

next page